KISAH 3 MARET 2009 Sisi lain wajah pendidikan Indonesia Juli Prasetyo Redaksi Madzhab-alkhoziny dan aktifis pendidikan nasioanl
Menarik, ketika itu saya sedang membaca e book tentang Agama dan politik Amerika1 di warnet SMP tempat saya mengajar, ada siswa kelas VII (tujuh) datang menghampiri, lama benar memperhatikan halaman demi halaman yang ada di buku elektronik, di salah satu bab menunjukkan ada polemik agama yang sangkut pautnya dengan Kristen dan Islam, entah apa yang dalam benak anak didik itu, lama benar ia mengamati layar monitor, mondar-mandir arah kursor ia perhatikan. Tiba-tiba ada ucapan“ Bapak ini Islam apa Kristen?”, seketika itu saya kaget, dan merasa ada sesuatu yang aneh sekaligus lucu, namun kelucuan ini menjadi satu keprihatinan tersendiri, bahwa posisi pendidikan kita masih bernaung pada satu yang “mikro”2.
Pengalaman itu akhirnya membawa alam sadar untuk lebih berpikir tentang pendidikan nasional khususnya pendidikan etika dan moral3 beragama yang selama ini masih mengkotak-kotak agama dan esensi beragama. Analisa kecil tersebut membuat saya sadar bahwa perlu ada kontemplasi dan diskusi panjang tentang perubahan paradigma penididikan di Indonesia, khususnya pendidikan moral dan etika.
Pada satu ketika, saya berada dalam diskusi kelas yang diasuh oleh Prof. Ali Haidar, kebetulan pokok bahasannnya tentang diskursus dan quo vadis pendidikan Islam tanah air dan konsep nalar pikir Islam4 ditinjau dari aspek pendidikan, menarik, sebab salah satu makalah membahas tentang Al Jabiri salah satu tokoh pemikir Islam yang getol memperjuangkan konsep dasar islam sebagai bahan kajian tulisannnya. Konsepsi tersebut membuatku berpikir kembali bahwa perlu ada perubahan besar dalam pendidikan moral dan etika, sebagaimana kekhawatiran Jabiri terhadap peradaban Islam yang semakin lama mengalami kemerosatan. Hingga pada akhirnya diskusi tersebut menelurkan satu kesimpulan yang masih dalam tanda tanya besar, dan menjadi polimik panjang, bahwa peradaban Islam akan maju jika paradigma pendidikan berubah, mestinya!
Membicarakan paradigma pendidikan memang tak ada hentinya, tantangan yang dihadapi terletak pada perubahan besar, minimal reformasi infrastruktur pendidikan, mulai pusat hingga tataran lebih rendah daerah. Ok, kita tahu kalau tatanan itu menjadi polemik panjang dan masalah besar yang kita hadapi bersama, disamping anggaran pendidikan kita jauh lebih rendah dibandingkan negara lain, namun minimnya anggaran harus menjadi cambuk agar kita lebih kreatif dalam mengembangkan pendidikan. Tentunya satu yang perlu di kaji, yakni pada pengembangan tri konsep pendidikan yang dikembangkan oleh Ki Hajar Dewantara, dimana pendidikan dikembangkan dari keluarga, lembaga dan masyarakat.
Konsep pendidikan yang seharusnya sejak awal terbentuknya bangsa ini sudah menjadi pijakan, tapi kenyataandalam perjalanan hingga saat ini kita lupa sekaligus terlena oleh kemajuan pendidikan negara lain yang lebih maju. Mata kita telah jauh memandang ke atas langit yang tinggi, dengan sentuhan perasaan heran terhadap keindahnnya, sehingga kita tak pernah menggapainya.
Kenyataan ini kemudian memberikan masukan besar pada pengembangan pendidikan bangsa, bahwa kita harus tahu konsep dasar, dan harus tahu arah kiblat kita, apakah ke barat atau kembali pada kejayaan masa lalu dengan Sri Wijaya dan Majapahit sebagai tonggak sejarah peradaban pendidikan kita.
Kalau saja kita arahkan kiblat ke pendidikan barat pasti arah industrialisasi sebagai dasar pijakan utama, dengan kata lain pendidikan disiapkan untuk konsumsi industri, dengan istilah yang lebih keren pendidikan sebagai bahan baku utama industri, sehingga industri siap menerima apa yang telah dikembangkan oleh sekolah dengan asumsi bahwa kurikulum yang dikembangkan relevan dengan kebutuhan industri.
Beberapa waktu yang lalu, saya sempat mendengarkan diskusi menarik tentang pendidikan di radio swasta Surabaya5. Menarik salah saru bahasan adalah tentang sejarah sekolah, salah satu materi yang disajikan adalah awal terbetuknya sekolah, sekolah ternyata pada awal mulanya terbentuk menggunakan konsep taman, mungkin itu yang mengilhami Ki Hajar Dewantara untuk mendidrikan taman siswa. Kurang lebih satu jam, saya simak diskusi yang menarik itu, yang pada akhirnya revolusi industri membuat konsep sekolah menjadi berubah, dimana konsep taman beralih pada konsep gedung, dan yang lebih “extrem”, kurikulum yang ada di kebiri dengan “kebutuhan industri”, Ironis memang.
Sekarang kita lihat sejenak konsep dasar pendidikan nasional bangsa ini, baiklah, coba kita kembali pada pendidikan era zaman penjajahan Belanda, memang kaum-kaum eropa, arab, cina, dan pribumi kelas atas yang mampu mendapatkan pendidikan layak, sebut saja kaum bangsawan kita yang mampu mengeyam pendidikan tinggi, tetapi kaum pribumi kalangan menengah bawah hampir tidak pernah. Itu sisi mendapatkan pendidikan. Dalam hal kurikulum memang di monopoli oleh kurikulum dari eropa, yang notabene adalah kurikulum Industri, tetapi kalau kita lihat seolah pendidikan masa itu cukup membuat bangsa kita belajar akan arti pendidikan.
Penjajahan Jepang, perubahan paradigma pendidikan menjadi sebuah hal yang amat dianggap perlu oleh masa pemerintahan penajajah jepang, oleh karane itu pendidikan mulai dapat dinikmati oleh kalangan menengah, biarpun amat sedikit jumlahnya, namun perubahan yang dilakukan tersebut membuat paradigma pendidikan yang semula oleh penjajah Belanda dengan kurikulum eropa, menjadi kurikulum Jepang, dengan penyesuaian pada tingkatan kelas yang sama dengan di negara Jepang, dasar 6 (enam) tahun, Menengah 3 (tiga) tahun, dan menengah atas 4 (empat tahun). Pengaruh Jepang pada akhirnya menjadi bagian penting pendidikan tanah air, biarpun perubahan besar itu membuat kita menjadi bangsa yang hanya mampu “melihat dunia dari satu sisi”.
Sedikit menyinggung pendidikan kita di masa kemerdekaan hingga sekarang, memang pendidikan nasional kita diwarnai berbagai macam perubahan dan pandangan, “eksperimen kebijakan” dan “eksperimen aplikasi program kurikulum” menjadi bagian yang hingga saat ini masih diwacanakan banyak kalangan. Melihat kenyataan itu kalau saya ibaratkan permainan sepak bola, pendidikan nasional kita hanya masih tahap ganti formasi dan ganti pemain, belum masuk tahapan esensi bermain yang benar! Tentu saja permainan bola lain dengan kurikulum, namun demikian di lapangan pada aspek aplikasi di sekolah dan di lembaga pendidikan, terlihat jelas bahwa setiap ganti pimpinan ganti kebijakan, apa benar seperti itu? Pertanyaan klasik dan klise kembali menjadi persoalan!, apa benar anggap saya dan sebagian banyak orang tentang pendidikan nasioanal kita sama.
Kita sedikit cermati beberapa menteri pendidikan yang pernah menjadi sejarah kehidupan pendidikan bangsa ini6, sebut saja masa kabinet presidensil, nama Ki Hajar Dewantara menjadi ikon sejarah pendidikan Nasional, dengan konsep tiga unsur utama pendidikan, pendidikan keluarga, lembaga dan masyarakat7, konsep tersebut akhir-akhir ini telah menjadi trademark pendidikan di Singapura, sungguh ironis, konsep dasar yang menjadi pedoman dalam mengembangkan pendidikan Nasional beralih dan diakui oleh bangsa lain sebagai konsep dasar mereka, kasihan bangsaku ini!
Era politik Sukarno salah bagain sejarah, memberikan wacana yang penting bagi pendidikan Nasional, bagiaman tidak pendidikan nasioanal berawal dari terbentuknya bangsa ini. Setelah pergantian menteri pendidikan dari Ki Hajar Dewantara, Todung Sutan Gunung Mulia, Soewandi, Ali Sastroamidjojo, Tengku Muhammad Hasan, Sarmidi Mangunsarkoro, Abu Hanifah, Bahder Johan, Wongsonegoro, Muhammad Yamin, Sarino Mangunpranoto, Prijono, dan Sanusi Hardjadinata. Semua menteri tersebut telah memberikan sumbangsih besar dalam membentuk konsep dasar pendidikan Nasional, kita patut memberikan penghargaan besar pada bapak pendidikan bangsa, biarpun tidak lepas dari banyak kekurangan.
Sejenak kita tinggalkan masa kemerdekaan, coba kita amati paradigma pendidikan Nasional di masa orde baru, “menarik disikapi dan sungguh ironis disaksikan”. Pendidikan Nasional bangsa seolah “cermin yang tak retak oleh waktu”, “tak lekang oleh zaman”, “tak habis dibicarakan”, karena memang masih jadi bahan perbincangan pakar. Kita amati gerak dan langkah para pejabat yang berwenang pada era ini, baik mulai dari Mashuri Saleh, Syarief Thayeb, Daoed Josoef, Nugroho Notosusanto, Fuad Hasan, Wardjiman Djojonegoro, hingga pada Wiranto Arismunandar. Semuanya memberikan sumbangsih pemikiran yang mengubah paradigma pendidikan bangsa, sangat manusiawi, jika banyak kesalahan dan kekurangan kebijakan, tetapi vatal jika hampir semua kebijakan yang diambil salah, hingga saat ini dampaknya terasa dihadapan bangsa ini. Tentunya pendidikan bangsa ini tidak dijadikan tunggangan politik seperti yang dulu-dulu, kita semua tahu bagian terbesar dalam perubahan paradigma pendidikan terletak pada sikap kita terhadap pendidikan itu sendiri.
Saya berharap tidak saling menyalahkan, semoga dapat mengambil hikmah masa lalu, biarpun kita merasakan ada kerugian waktu, untuk itu semoga dimasa datang kita mampu memberikan sumbangsih besar pendidikan nasional. Adanya masa reformasi, dengan konsep “good future” memberikan harapan besar pada pembentukan karakter bangsa melalui pendidikan.
Konsep pendidikana kita sedikit banyak diawarnai oleh pembentukan karakter bangsa melalaui pemikir muda, kita tahu bahwa pengambil kebijakan pendidikan nasional banyak dari pakar dan ahli pendidikan yang notabene kalangan terdidik. Sebut saja Juwono Soedarsono, Yahya Muhaimin, Abdul Malik Fadjar, dan yang sekarang Bambang Sudibyo. Konsep pendidikan nasional bangsa ini secara perlahan sudah diarahlkan pada konsep dasar pengembangan sumber daya manusia dengan kecakapan hidup, tentu kita sambut dengan apresiasi.
Saya merasa ada sesuatu yang erat hubungannya dengan kisah 3 Maret 2009 yang baru saja saya alami, tentunya kita tahu ada pembelajaran moral, etika, estetika, dan logika yang samar dan seolah luntur dalam konsep dasar pendidikan bangsa. Apakah ini hanya perasaan saja? Sebagai dasar perubahan besar era mendatang, bukan sekedar 10 tahun, melain 20 hingga 30 tahun kedepan, keberadaan pendidikan yang ada saat ini berusaha menggali makna kecakapan hidup, namun ada yang “tertinggal”, saya tidak mengarh pada daerah atau wilayah, melainkan konsep dasar pendidikan, dalam hal ini adalah kemampuan dasar manusia dengan pola pikir, pola rasa dan pola norma.
Bangsa besar adalah bangsa yang mampu “berpikir kedepan”, itulah tolak ukur suatu bangsa, saya mengutip salah satu konsep yang diutarakan oleh Nasution, “pendidikan adalah tolak ukur bangsa dimasa mendatang”8. Oleh karena pendidikan adalah bagian penting dalam tatanan kehidupan bangsa tentunya, sekarang kita tidak perlu lagi berjalan ditempat, maliankan perlu ada langkah awal yang menjadi dasar kemana arah pendidikan kita nantinya.
Kisah di warnet sekolah ini kemudian membuat saya berpikir tentang sesuatu dihadapan, bahwa etika, estetika, dan logika masih tidak tersentuh dalam pendidikan, sekarang masuk era “behavioristik”, dan era multi informasi, tapi jangan pernah dilupakan! kalau konsep dasar pendidikan kita adalah Etika dengan landasan moral, estetika dengan landasan norma, maupun spritual dengan landasan agama dan budaya. Saya tidak mengkritisi apa yang dilakukan oleh para pengambil kebijakan masa lalu, melainkan mencoba mengambil hikmah apa yang telah terjadi, tentunya perlu ada paradigma yang mengubah semua itu, kapan kita mulai?
Detik ini, bangsa ini merupakan konsep dasar, luas wilayah dan ribuan adat budaya adalah modal besar, bukan berarti bangsa yang besar adalah bangsa dengan wilayah terluas dan penduduk terbanyak, melainkan konsep berpikir harus didahulukan dengan korelasi antara paradigma dengan gaya hidup. Solusi terbaik dari hubungan pendidikan dengan keadaan saat ini adalah pada sikap kita yang harus memberikan konsep dasar melalui paradigma yang sesuai dengan moral, etika dan estika, yang semuanya di kaitkan dengan pola dan etos kerja masyarakat.
Sebelum mengubah semua itu, lebuh baik kita lihat kebutuhan masyarakat 20 hingga 30 tahun kedepan, tentunya semua pakar dan praktisi pendidikan tahu bahwa kebutuhan akan Sumber daya manusia yang mampu berperan aktif dalam pengembangan dunia, oleh karenanya investasi jangka panjang yang dihadapi bangsa adalah kita ubah paradigma dan cara pandang pendidikan. Perubahan besar itu kita mulai dari dasar; keluarga, pola pikir dan pola kebiasaan yang ada dalam keluarga segera mungkin diubah, paradima pendidikan keluarga udah menjadi bagian kehidupan bangsa, bahwa sistem kekerabatan dan kekeluargaan merupakan kebiasaan yang tak bisa dilepaskan, sebagaimana tertuang dalam sila ke empat pancasila dan pembukaan UUD 1945, semua permasalahan haruslah kita lihat dari sisi keluarga. Kedua, solusi yang tepat untuk merubah tatanan pola dan pandangan masayarakat tentang kehidupan berpendidikan adalah pada lembaga pendidikan, kekuatan besar ada pada lembaga, khususnya sekolah. Sekolah adalah masyarakat dalam lingkup mikro setelah keluarga hendaknya menjadi barometer utama dalam pengembangan pendidikan, sebutan yang mestinya enak didengar menegnai sekolah adalah lembaga kontrol dan lembaga tepat investasi sumber daya manusi yang sesuia dengan kebutuhan mendatang.
Masyarakat merupakan kekuatan yang mesti memberikan ruang untuk mengembangkan paradigma baru pendidikan secara makro, saya hanya berharap pola dasar pendidikan baru akan segera berjalan, tidak hanya semboyan sesaat yang datang, kemudian pergi, tidak seperti itu. Pola pikir baru dengan konsep dasar bangsa yang baik di masa datang adalah patut diperjuangkan! Sehingga pengelompokan pendidikan tidak terjadi dengan sistem kasta tidak terjadi, segera!# 1Ebook yang membahas tentang pergolakan agama dan kondisi politik di Amerika Serikat, dimana ada pergolakkan antara agama minoritas dan agaman mayoritas, www.pustka78.com. 2Mikro adalah merupakan tatanan yang lebih kecil, dalam Filsafat Yunani Mikro diartikan sebagai galaksi kecil kehidupan alam semesta. Dalam tatanan budaya jawa mikro adalah bagian kecil dari alam, dalam hal ini adalah manusia sebagai obyeknya. Dalam tatanan pendidikan mikro adalah skala kecil pendidikan nasional yang belum sempat trgarap atau masih dalam kotak-kotak yang belum pernah digarap ataupun disentuh oleh kalangan pendidik. 3Pembelajaran moral, Asih Budiningsih 4Pemikiran Al Jabiri yang resah akan perubahan peradaban bangsa Arab yang hingga saat ini mengalami banyak kontaminasi dan dehidrasi budaya. 5Acara musik yang dikemas dengan sejarah pendidikan di M Radio, salah satu radio swasta di Surabaya 6www.wikipedia.com, tanggal 10 Maret 2009 7Baca M. Joko Susilo, Pembodohan Siswa tersistematis, Yogyakarta : Pinus, cetakan pertama 2007 8Salah satu tulisan Nasution, dalam bukunya Azas-azas kurikulum, tahun 1990 NILAI ETIKA, ESTETIKA DAN LOGIKA BAGI BANGSA Kerangka dasar membangun pendidikan Moral Bangsa Indonesia
oleh : Juli Prasetyo
Televisi swasta nasional “ Trans TV”, tanggal 11 Maret 2009, menyuguhkan acara yang membuat saya memberikan apresiasi positif tentang dunia politik, filsafat, ekonomi, leadership, seni budaya, pendidikan dan kepemudaan, semua itu terangkum dalam tajuk acara “harus bisa”. Kebetulan yang menjadi narasumber utama adalah Susilo Bambang Yudhoyono, pemimpin negara. Kalau saya perhatikan, mungkin baru kali pertama pimpinan negara di Indonesia berbicara di depan umum dengan kemasan acara talk show yang cukup santai, apakah ini ada hubungannya kegiatan pra pemilu, ya pak? Pikir saya positif saja! Saya berharap banyak guna dan manfaat, apalagi masukan tentang berbagai wacana yang menyoalkan solusi permasalahan bangsa dan dunia sekarang maupun masa mendatang.
Kegiatan semacam ini tentunya menambah khasanah pengetahuan dan merupakan catatan sejarah, tentunya masayarakat telah tahu banayak tentang pendidikan politik, ekonomi dan berbagai penegtahuan di dalamnya. Pemimpin negara lainnya, seperti Barrack Obama, juga memanfaat momen yang ada dalam televisi. Memang kalau kita perhatikan informasi yang cepat dan murah di Indonesia maupun di negara lain adalah televisi. Ini juga menjadi pokok bahasan yang menarik Trans71, hampir 95% masyarakat Indonesia, menonton televisi oleh keran itu saya berharap kecepatan informasi dari media eletronik tersebut sangat efektif untuk meredam anarkis menjelang pemilu dan bisa jadi sebagai solusi kampanye pemilu damai.
Memang keberadaan negara tidak lepas dari pemikir besar, saya menyambut dengan apresiasi postif langkah pemikir besar dunia, yang beberapa tahun lalu sebagai salah satu nominasi tokoh penerima nobel dunia. Acara yang berdurasi dua jam tersebut memberikan inspirasi, dan pemikiran besar, tapi juga ada beberapa kritikan yang selama ini masih mengganjal di benak saya.
Pemikiran tentang falsafah ketatanegaraan merupakan bagian yang menarik untuk disimak, bagaimana kekuatan pemikiran masa mendatang telah terelaborasi menjadi bagian penting dalam khasanah pemikiran bangsa maupun dunia di masa mendatang, baik tentang issu pangan, issu green earth, issu pendidikan, issu sosial dan culture, maupun tentang kependudukan.
Konsep dasar tersebut membuat semua kalangan, baik dari kalangan istana negara, militer, pakar pendidikan, ekonom, cendekiawan muda, dan hampir semua kalangan, saya tidak melihat unsur negatif dalam konsepsi tersebut, hal baru yang merujuk ke masa depan memberikan angin segar bagi bangsa yang selama ini rindu pulihnya infrastruktur.
Falsafah dasar yang kemudian menumbuhkan paradigma baru dalam berbagai hal, namun semua yang disampakian ada tigal yang mempu terekam dalam benak saya, Falsafah etika, estetika dan logika, leadership horizontal, serta pendidikan seabagai investasi kaum muda. Ketiga hal yang semuanya mendasari bahwa di era muti informasi yang serba tersedia, sangat dibutuhkan filter dari semua pihak.
Falsafah etika, estetika, dan logika Saya merasakan ada perubahan besar yang terjadi di masayarakat, saya mencoba mengamati perubahan besar itu sejak sekolah menengah atas. Tahun 1998-1999 adalah masa peralihan saya dari sekolah menengah pertama ke jenjang sekolah mengah atas, masa itu merupakan sejarah besar, bahwa saya sempat memperhatikan dan melihat langsung kejadian yang dialami bangsa ini, mulai dari resesi ekonomi global, yang dampaknya krisis ekonomi, dan munculnya krisis kepercayaan dari masayarakat, sehingga dampaknya masuk kesegala bidang, 13 Mei 1998 dari rezim orde baru, yang kebetulan selama 32 tahun dipimpin oleh pak Soeharto, tumbang ditangan mahasiswa, sehingga kita tahu muncul paradigma perpolitikan tanah air yang dikenal denganreformasi.
Sejarah merupakan guru bangsa, setiap detik yang kita alami adalah sejarah, oleh karena itu kita harus mewarnainya dengan sejarah yang baik. Pengalaman pahit bangsa merupakan pelajaran berharga demi melangsungkan kehidupan berikutnya, sungguh sangat disayangkan, ketika era reformasi bergulir, ada beberapa aset etika, dan moral hilang dari bangsa ini, itu benar-benar saya rasakan, tahun satu tahun bangsa ini membuat sejarah, baru, pemilu legeslatif pertama di era ini berlangsung, pada saat itu saya juga membuat sejarah dalam hidup, saya mendapatkan hak untuk mengeluarkan suara.
Secara langsung ada perubahan besar yang terjadi dalam kehidupan bangsa, pergolakan politik akhirnya berdampak pada sistem pendidikan nasioanal, perubahan sentra perpolitikan dan pemerintahan dengan menitik beratkan pada daerah3 merupakan amanat besar yang harus dilaksnakan seluruh rakyat.
Sekarang kaitannya apa dengan pemikiran Susilo Bambang Yudhoyono, pengamatan yang secara langsung saya alami membuat saya “mengelus dada”, bahwa merosotnya nilai moral, nilai etika, estetika, dan pemikiran yang kurang logis menjadi dehidrasi stadium tinggi. Era perdagangan bebas ASEAN, dan kebijakan luar negeri, serta kemajuan teknologi, mengutip pernyataan menteri infokom Muhammad Nuh, saat ini merupakan “era inforamsi serba ada”, era ini membuat manyarakat beripikir atas informasi yang didapat. Dampak positif banyak didapat dari era informasi serba ada ini, namun dampak negatif juga tak kalah sama, untuk itu saya coba mengaitkan kenyataan yang ada di era ini dengan apa yang telah di pikirkan oleh SBY, saya tidak mengkristisi, melainkan saya mencoba meriview apa yang telah dialami bangsa ini.
Etika, sebagaimana tertuang dalam pembukaan Undang-Undang Dasar negara4, pemikiran fundamental etika sudah dikenal sejak bangsa ini ada, ajaran dari agama dan kepercayaan juga berkata sama, bahwa ajaran etika, dalam bingkai norma, adat dan budaya telah dikembangkan sejak masyarakat terdahulu, esensinya adalah bangsa ini merupakan bangsa yang beradab5. Dengan berkaca pada konsep dasar yang telah menjadi pedoman hidup bangsa, maka sangat diharapkan tatanan etika yang ada di masyarakat kembali menjadi modal melangsungkan hidup bangsa.
Titik tolak dari tatanan etika; “baik dan buruk”, kehidupan sosial bermasyarakat setiap manusia memiliki kemampuan beradaptasi dengan sekitar, pola pikir ini merajut satu kemasan masyarakat yang mampu memberikan bagian penting dalam penilaian, penilaian yang dimaksud merupakan tatanan nilai yang notabene adalah sebagai hukum lingkungan sekitar. Kekuatan lingkungan secara mekanisme sosial berlangsung sebagai control, tidak menuntut kemungkinan penilaian yang dilakukan dikemas dalam bentuk norma.
Ketika etika memberikan solusi sosial, maka kemana arah pandangan hidup bangsa? Tatanan pemikiran yang beradab perlu mendapatkan forsi yang cukup, semua tidak lepas dari konsep norma dan tataran adat, etika membuat kita bergerak dengan konsep baik dan buruk, penafsiran ini memumculkan kekuatan pada nilai dan sudut budaya yang akarnya pada mekanisme sosial itu sendiri. Mekanisme sosial berlangsung sejak masyarakat kecil tumbuh, semakin lama berkembang ke lingkungan sekitar sebagai bahan pengaturan tatanan masyarakat. Saya tidak begitu paham hukum sosial dengan kerangka budaya sebagai bahan pertimbangan, tetapi kalau kita kaji dengan etika, maka hasil yang diharapkan adalah kemampuan lingkungan mengembangkan proteksi yang esensinya adalah produk hukum adat.
Meminjam kata Socrates, “bagaimana kita hidup dan seharusnya bagaimana”6. Kehidupan berkeluarga, masayarakat dan bernegara menjadi bagian yang lepas, sekaligus saling berkaiatan, konsekuansinya, memberikan sumbangsih besar pada pola pikir tatanan hukum bermasayarakat, untuk itu pemikiran tentang etika berkehidupan hendaknya menjadi tolak ukur dan peganggan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Falsafah Logika Berpikir dengan konsep, merupakan satu kajian dasar yang patut kita beri apresiasi, apalagi konsep kebenaran dalam tatatnan kehidupan, so, pastinya kehidupan berbangsa dan bernegara, tatanana kehidupan ini terkosntruksi oleh mekanisme dasar dari lubuk manusia. Tentunya sifat dasar manusia yang selalu ingin, membuat konstruksi pikirannya mengkrucut pada mekanisme sempit. Berkaca dari perspektif sosial, keberadaan konsep dasar manusia menjadi kajian mendasar dalam keberadaan manusia itu sendiri.
Berpikir secara logika, dengan keberadaan “benar dan salah” terarah pada satu kondisi masyarakat yang erat hubungannya dengan konsekuensi dasar pada “prilaku sosial”, dalam keadaan seperti ini membenarkan kalau masyarakat saat ini telah membiasakan diri dan beradaptasi pada kondisi kebenaran dan kesalahan sebagai kebutuhan, bukan saja kebutuhan jasmani, namun kebutuhan rohani juga menjadi sasaran utama.
“Benar dan salah” konstruksi dasar dalam membuat argumentasi, walau kadang kita tidak sadar telah dibimbing oleh kebenaran, atau kadang kita masih mencari apa sebuah kebenaran; titik pandang yang tepat dalam mengelaborasi kenyataan yang ada dalam kehidupan mengenai kebenaran, artinya konsekuensi yang didapat adalah kebenaran merupakan konstruksi yang di kembangkan oleh argumentasi.
Bagaimana dengan kesukaan? Entah apa yang telah kita pikirkan, semenjak kita lahir, sampai pada saat ini, banyak hal yang memberikan kontribusi besar dalam memaknai kesukaan, “personal” memang, dengan dalaih ke-personal-an tersebut menjadi sebuah pola pikir yang menhadirkan bahwa kesukaan adalah memunculkan argumentasi, tetapi argumentasi yang harus ada mengandung kosekuensi tanggung jawab moral dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.
Saya tidak membicarakan tentang kesalahan, melainkan anda sendiri yang mampu memberikan “takaran nilai”, bahwa semua yang telah dilakukan tidak menuntut kemungkinan sudah ada ketika nilai terbentuk, agar takaran nilai yang ada sesuai dengan kesepahaman masyarakat, tentunya pola pikir yang harus dilakukan adalah memberikan takaran positif terhadap apa yang ada dalam masyarakat.
Falsafah Keindahan Membicarakan soal keindahan, menarik, dan konteks dasarnya mengarah pad estetika dan etika dalam kehidupan, dengan konteks dasar keindahan maka perasaan akan terkonstruksi pada kaidah dasar keindahan yang dasar pemikiran utamanya adalah kemampuan mengapresiasi dan berkomunikasi dengan obyek yang dianggap indah.
Konstruksi dasar keindahan yang kaitanya dengan kemampuan mengapresiasi dan kemampuan berkomunikasi, selanjutnya menjadi dasar pijakan dalam mengembangkan kemampuan “mencipta”, mencipta dalam cakupan luas memberikan pandangan terhadap manusia untuk lebih bersikap toleran dan menghargai apa yang telah diperbuat atau dihasilkan oleh orang lain, inti persoalannya adalah pada kemampuan kita menilai7.
Kendali dasar yang ada dalam kehidupan selanjutnya adalah pada keadaan masyarakat yang memberikan kontribusi besar pada pandangan keindahan, keindahan ini adalah pada konstruksi kemanuasian, dalam konteks ini adalah kemampuan memberikan nilai dan memberikan makna toleransi atas keadaan yang terjadi di masayarakat.
Makna dasar dalam toleransi yang di kembangkan dalam makna keindahan adalah etika dan esteika manfaat yang mengilhami adalanya kesamaan dan kemampuan besar dalam dasar negara8, selanjutnya makna keadalilan dan makna kematangan dalam menghargai dan memberikan nilai adalah sebuah masukan, bukan tidak mungkin nilai itu beralih fungsi menjadi dasar etika yang selanjutnya memberikan kontruksi pada kajian keindahan bagi masyarakat.
Konstruksi dasar yang ada dalam makna keindahan dengan titik tolak pada kemampuan individu menilai dan memberikan apresiasi postif terhadap apa yang ada dalam masyarakat, bukan sekedar menilai, melainkan kemampuan dasar mengembangkan nilai batin dan nilai kematangan berpikir dan menjalin relasi dengan masyarakat secara etika dan estetika.
Kemampuan ini memberikan masukan besar dalam perjalan hidup suatu masyarakat, dengan satu komponen sosial, kaitannya adalah pada bentuk dasar yang dianggap matang dan pantas dalam mengembanhgkan wacana sosial yang didasari oleh etika dan estetika sebagai wahana membangun image positif dalam masyarakat.
Sudut yang dianggap penting adalah bagaimana membangaun nilai positif masyarakat dengan kerangka komponen sosial dan komponen budaya yang notabennya adalah kerangka budaya dasar yang ada dinegara kita, apa saja kerangka tersebut?
Bicara tentang kerangka dasar budaya, maka yang jadi bahan pertimbangan adalah pada terlaksanannya kerangka pikir budaya dengan asumsi pada kemampuan mengembangkan norma dan tujuh unsur budaya yang ada dalam masyarakat9 titik tolaknya dalam komponen budaya adalah pada pemaknaan terhadap nilai sosial yang ada dalam masyarakat dipadu dengan nilai normatif dengan kajian pada kemampuan menghargai dan memberikan nilai secara adil sebagai bagian dari pemaknaan nilai budaya dan nilai keindahan.
Sebagai kata akhir, nilai falsafah yang sangat mendesak untuk dilaksanakan oleh masayarakat dan vang Indonesia adalah pada kemampuan memberikan makna terhadap kehidupan bangsa ini melalui nilai etika, estetika dan logika, koralesi yang tepat dengan pemikiran itu adalah pada pendidikan moral untuk anak bangsa. # 1Berita tentang pemanfaatan media telvisi sebagai media kampanye efektif menjelang pemilu, redaksi pagi Trans7, 13 Maret 2009, pukul 06.30 WIB 3UU no 22 tahun 1999 tentang otonomi daerah 4Pembukaan undang-undang dasar RI alenia.... 5 Sila kedua pancasila “kemanusiaan yang adil dan beradab”. 6Baca filsafat moral, James Rachles, 2004, cetakan ke empat, Yogyakarta;Kanisius. Sokrates, salah satu filsuf moral pertama dan dianggap paling baik, yang dalam laopran Plota dalam republik(+ 390 SM) memberikan konsep dasar moral,” bagimana kita hidup dan bagaimana seharusnya”. 7Menilai; kemampuan mengapresiasi dengan berbagai kriteria dasar yang relatif dari setipa individu 8Nilai keadilan soasial bagi seluruh rakyat Indonesia, Sila ke lima Pancasila. 9Baca Kuntjaraningrat, bunga rampai antropologi, 1990 |
![]() |
